
Jakarta, 7 Februari 2026 – Mandala Saksana Astagatra (MSA), Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina, kembali menyelenggarakan diskusi Lini Masa ke-11 dengan mengangkat tema ”Keamanan Domestik, Proyeksi Global: Studi Kasus Türkiye Pasca-Terorisme.” Diskusi ini membahas dinamika penanganan terorisme di Türkiye serta relevansinya dalam konteks keamanan regional dan global.
Diskusi menghadirkan narasumber utama yakni Professor Ergun Yildimir (Department of Social Work / Sosyal Hizmet, Yalova Üniversitesi, Türkiye), serta para penanggap yaitu M. Syauqillah, Ph.D (Dosen Kajian Terorisme, SPPB Universitas Indonesia) dan Rusdi J. Abbas (Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pertamina), dengan dipandu oleh moderator yaitu Dina Aulyah S. Riastami (Mahasiswi Hubungan Internasional, Universitas Pertamina).
Dalam paparannya, Professor Ergun Yildimir menjelaskan bahwa proses Türkiye untuk terbebas dari terorisme telah dimulai sejak 1994, ketika kelompok PKK (Partiya Karkerên Kurdistanê) menjadi ancaman serius bagi keamanan domestik. PKK, yang dipimpin oleh Abdullah Öcalan, merupakan organisasi teroris berbasis etno-nasionalisme yang menghantui kehidupan masyarakat sipil Türkiye selama puluhan tahun.
Upaya penyelesaian konflik ini mencapai momentum penting pada 2013, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Pemerintah Türkiye membuka jalur solusi politik yang panjang dan kompleks, salah satunya melalui pembentukan saluran media berbahasa Kurdi, TRT Kurdi, sebagai upaya pengakuan politik dan kultural. Professor Ergun menegaskan bahwa selama hampir 50 tahun, Türkiye telah membayar mahal biaya terorisme, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas nasional. Ia menutup paparannya dengan pernyataan kunci, ”Perdamaian jauh lebih murah daripada terorisme.”
Sesi berikutnya disampaikan oleh Syaukillah, yang menekankan bahwa proses politik merupakan kunci utama dalam penanganan terorisme di Türkiye. Ia menjelaskan bahwa PKK merupakan bentuk terorisme berbasis etno-nasionalisme yang menuntut otonomi khusus dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Oleh karena itu, integrasi sosial dan politik menjadi elemen krusial pasca-pembubaran organisasi teror.
Kemudian, tanggapan dari Rusdi J. Abbas menyoroti aspek kemanusiaan, khususnya penderitaan etnis Kurdi di Türkiye yang menurutnya sangat kompleks dan berkepanjangan. Ia menegaskan bahwa penanganan terorisme tidak dapat dilakukan semata-mata melalui pendekatan keamanan, melainkan perlu dirangkul dengan pemenuhan kepentingan dan hak-hak masyarakat sipil.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Berbagai pertanyaan mengemuka, mulai dari efektivitas dialog politik dalam memberantas terorisme, tantangan reintegrasi pasca-konflik, hingga implikasi geopolitik regional terhadap keamanan domestik suatu negara.
Melalui diskusi Lini Masa #11 ini, Mandala Saksana Astagatra (MSA) Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang diskusi kritis mengenai isu keamanan internasional. Studi kasus Türkiye diharapkan dapat memperkaya perspektif mahasiswa dalam memahami bahwa pemenuhan hak-hak dasar, integrasi sosial, dan stabilitas politik merupakan fondasi utama dalam mewujudkan keamanan domestik yang berkelanjutan serta berdampak positif bagi keamanan global.
