Lini Masa / news · 25/03/2021

LINI MASA #3 PASAR KARBON: UPAYA EFEKTIF UNTUK MENGATASI PERUBAHAN IKLIM?

20 Maret 2021, Program Lingkar Opini Mandala Saksana Astagatra (Lini Masa) #3 kali ini membahas mengenai “Pasar Karbon: Upaya Efektif Untuk Mengatasi Perubahan Iklim?”. Kegiatan webinar ini dilaksanakan melalui platform Zoom dan dipandu oleh MC yaitu Fendi Irawan yang merupakan seorang mahasiswa program studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina. Dekan Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina, Ibu Dr. Farah Mulyasari, S.T.,M.Sc. memberikan kata sambutan dalam acara yang turut dihadiri oleh Ketua Program Studi dan dosen Hubungan Internasional Universitas Pertamina, serta 120 peserta dari berbagai universitas di Indonesia. Adapun narasumber dalam acara webinar ini yakni Bapak Dicky Edwin Hindarto yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau/Koordinator Jejaring Indonesia Rendah Emisi (JIRE) dan ditemani oleh moderator yaitu Frisca Lampita, mahasiswa tingkat akhir program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina. Diawali dengan penjelasan mengenai terjadinya peningkatan suhu permukaan bumi akibat emisi gas rumah kaca, Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen global untuk mengatasinya. Hal ini salah satunya ditunjukkan melalui berbagai kesepakatan, mulai dari Kyoto Protocol hingga Perjanjian Paris yang pendekatannya lebih “bottom-up”. Lebih jauh, Bapak Dicky menjelaskan bahwa perdagangan karbon merupakan salah satu skema yang menjanjikan dalam menurunkan emisi CO2 dan saat ini sudah semakin diimplementasikan secara luas. Dengan berbasis pada nilai ekonomi karbon, Pasar Karbon merupakan salah satu alternatif terbaik model pembiayaan perubahan iklim yang mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabiliti sehingga terhindar dari perhitungan berganda. Namun demikian, Bapak Dicky menyatakan bahwa program ini masih perlu didukung secara luas oleh semua pihak, baik pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Narasumber juga menambahkan bahwa mahasiswa serta dosen program studi Hubungan Internasional perlu dibekali dengan kemampuan teknis terkait dengan data-data kuantitatif karena negosiasi di ranah internasional tidak melulu soal politik, namun juga banyak membahas soal angka. Kegiatan webinar ini dilaksanakan selama 2 jam yang diakhiri dengan sesi tanya jawab oleh peserta terhadap narasumber.