Kuliah Umum : Pemanfaatan Energi dan Keberlangsungan Lingkungan Hidup

Jakarta — 7 November 2019 Program Studi Hubungan Internasional – Fakultas Komunikasi dan Diplomasi (FKD) Universitas Pertamina mengundang Prof. Emil Salim, M.A., Ph.D untuk mengisi kuliah tamu dalam mata kuliah Energi dan Pembangunan, serta Diplomasi Energi dan Keamanan Energi dengan tema “Pemanfaatan Energi dan Keberlangsungan Lingkungan Hidup”. Kuliah tamu diselenggarakan pada Senin, 4 November 2019 di Auditorium Gedung Griya Legita, Universitas Pertamina.

Prof. Emil pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup RI di era Presiden Soeharto tahun 1979 –1993. Kuliah tamu dipandu oleh Ibu Novita Putri Rudiany, M.A yang merupakan dosen tetap Program Studi Hubungan Internasional Universitas Pertamina. 

Sebelum dimulainya sesi materi oleh Prof. Emil, acara dimulai dengan pemutaran video singkat yang memberi gambaran kepada peserta kuliah tamu, khususnya kepada mahasiswa/i, tentang hubungan antara pemanfaatan energi dan dampak-dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut, termasuk juga keterkaitannya dengan kerusakan lingkungan. Kemudian beliau membuka sesi materi dengan pembahasan mengenai negara Indonesia sebagai negara kepulauan yang menurut beliau harus lebih peduli terhadap isu-isu tentang lingkungan, seperti Global Warming. 

Gagasan strategis Indonesia tentang “Poros Maritim Dunia” dianggap belum memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan yang seharusnya dapat dicapai oleh Indonesia di beberapa bidang. Indonesia masih sangat kurang dalam pembangunan pelabuhan-pelabuhan laut yang mampu mendukung transportasi, serta kegiatan ekspor-impor, teruatama dalam hal energi. Maka dari itu, dalam pemaparannya, Prof. Emil menyebutkan bahwa konektivitas adalah cara yang mampu dimanfaatkan oleh Indonesia untuk membangun pelabuhan besar sekaligus memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan dapat dinikmati oleh Indonesia pada tahun 2020 – 2035 nanti. Pemanfaatan bonus demografi ini juga harus didukung oleh kualitas pendidikan yang mampu menunjang produktivitas penduduk, sehingga Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dalam beberapa bidang ilmu, seperti sains, matematika, literasi, serta kemampuan pengoperasian komputer. 

Menurut Prof. Emil, Indonesia membutuhkan generasi muda yang berkualitas untuk mengeluarkan Indonesia dari Low Middle Income Trap, di mana hal ini membutuhkan peningkatan di sektor pengembangan sumber daya manusia. Hal ini tentu akan berpengaruh pada peningkatan produktifitas bangsa yang fokus pada pembangunan secara menyeluruh, termasuk mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang pembangunan. Sebagai closing statement, beliau menyebutkan bahwa dunia saat ini telah dikuasai oleh sains dan teknologi, sehingga generasi muda Indonesia harus mampu mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi agar mampu bersaing dengan negara-negara lain, terutama di region Asia Tenggara. (KN)